Wednesday, April 27, 2011

My Beppu Story: To the Land Unknown

"Jadinya uni mau kemana? Ke Jepang apa Bandung?,"tanya ibuku suatu hari tahun 2006. Topik ini memang sudah jadi perdebatan hangat di rumah. Topik tentang masa depanku, si uni, si kakak paling tua, yang saat itu berumur 16 tahun. Aku harus memilih kemana aku mau melanjutkan studiku selepas masa SMA. Alhamdulillah saah satu uni ternama di Bandung memberikan satu kursinya setelah mengikuti rangkaian tes yang panjang. Di lain sisi, minggu lalu kami baru mendapat telfon dari satu lagi universitas yang aku apply. Mereka bilang aplikasiku diterima dan aku mendapatkan beasiswa uang sekolah selama 4 tahun. Jadi, kalau aku ke uni ini, aku nggak usah bayar uang sekolah, sampai lulus. Wow! Another alhamdulillah!

Namun, universitas yang kedua ini lokasinya di Jepang. Yep, negara asalnya tokoh favoritku, Doraemon. Dan rumor mengatakan biaya hidup di Jepang itu super mahal! Malah yang termahal dibanding US, UK atau Australia. Hmm, walaupun uang sekolah gratis, kalau biaya hidup tetap selangit, kasian mama papa dong, pikirku saat itu. Ditambah lagi, teman-teman SMA yang mulai meracuni untuk pergi ke Bandung bersama-sama mereka. Gini deh kalau sekolah di SMA yang gemar bedol desa ke kota kembang itu. Aku pun berfikir lagi, aku mau kemana ya?

Lagi bimbang-bimbangnya menimbang keputusan, tiba-tiba suatu sore telefon rumah berdering. Ternyata dari kakak kelas Indonesia yang belajar di universitas Jepang tersebut. Wow! Aku ditelfon langsung! Jadilah aku pakai kesempatan ini untuk bertanya panjang lebar. Gimana kuliahnya? Tempatnya asik nggak? Dan yang paling penting biaya hidupnya gimana? Mahal nggak kak? Nah, pas pertanyaan ini ditanyakan, aku inget banget dia jawabnya begini: "Beppu tuh biayanya hidupnya relatif murah, jangan bayangin kota besar kaya Tokyo atau Osaka. Dia tuh desa kecil gitu, jadi biaya hidupnya nggak tinggi. Kamu juga bisa baito, atau kerja part time kok!"

"Kerja ?!" Aku yang dari kecil mendambakan kera part time sebagai barista starbucks pun langsung bermimpi. Asik juga kali kuliah sambil part time, bisa dapat uang jajan sendiri. Lagipula si kakak ini bilang biaya hdup di Beppu nggak semahal Tokyo, soalnya Beppu itu desa kecil. Wait, wait? Apa? Desa kecil? Beppu yah tadi namanya? Kok aku belum pernah denger? Deket mana sih? Kok di atlas nggak ada?
"Iya, Beppu inaka, pedesaan banget! Kalau di peta ada di deket Fukuoka. Jadi nanti dari Jakarta, kamu naik pesawat ke bandara Fukuoka, baru dari situ naik bus, 2 jam ke Beppu", kata si kakak mendeskripsikan kota kecil yang akan jadi rumahku 4 tahun ke depan. Yep, setelah telfon dari sang kakak kelas, aku pun langsung memutuskan untuk kuliah di Jepang dan mengepak koper untuk ke Beppu, kota kecil yang sampai detik itu tidak saya ketahui lokasinya. This is indeed a journey to the land unknown.      

No comments:

Post a Comment