Showing posts with label japan. Show all posts
Showing posts with label japan. Show all posts

Thursday, April 28, 2011

An unexpected snorkeling

Snorkeling in Japan was never an expected experience for me. I had been living in the country for four years but it never came to my mind to plan a snorkeling trip. That is why this experience happened unplanned.


It was in Okinawa, the south-most prefecture of Japan; consists of many beautiful islands, which only means beautiful beaches. Okinawa University asked my campus to select 8 people to come and be tutors for 80 high school students, Japanese and foreigners who participated in Asian Youth Exchange Program in Okinawa (AYEPO). The program was held for 23 days, moving from one island to another one. Although it’s a youth conference, discussing about water issue, it’s more like an “Exploring Okinawa” for me.

I have been to Okinawa for a holiday trip before, and I fell in love with the place. I thought AYEPO will be free summer holiday, but no, I was required to actually work. Be a tutor, prepare the kids for presentations, be their ‘big sis’ and meetings with other tutors every night. There was even 2-3 days I was sick and felt like my body was burning because of ‘having fun’ with everyone. Yea, the people, especially the kids were so fun to hang out with! They were sooo excited about everything we did in the program.

One thing they so can’t wait was snorkeling in Tokashiki Island, an island in Okinawa. The program provided us with everything, the mask, fins, everything! Except bathing suit of course :)
The coordinators even let us, tutors to come and join the students. Maybe they were afraid the students will drown themselves or lost their way, although I realize we all were equipped by life jackets :P
For a first timer like me, this was a definite not-to-be-missed chance. I brought my swimming suit and was as excited, or even more, as students in my group when choosing the mask and fins. The instructor explained that we will be paired with one person that will be our ‘buddy’. We had to stick together and not lose any sight of our own buddy.

I forgot who my buddy was, but as a tutor, my job was clear enough: I was everyone’s buddy, I need not to lose a sight of them, 10 students of my group. However when we stepped into the water, everything was reversed. I knew at that moment everyone was my buddy. They needed to take care of me, their tutor. They were the one who must not lose a sight of their ‘big sis’.

“Nuna! There’s a sea snake!!”, Ji Hwan, my student from Korea suddenly shouted from behind. I looked into the water with both excitement and fear, wondering what I would see. There was it. Ji Hwan was right, a black and white sea snake with flat tail like the one in Detective Conan comic book. It swam right across our feet. I told everyone nearby about it with extremely loud, panic, voice: “GUYS!! THERE’S A SEA SNAKE BELOW! BE CAREFUL! IT’S DANGEROUS!!”
image thanks to divegallery
The kids didn’t seem to care. Hmph. They were too excited playing underwater. I would be so excited with my snorkeling debut too if no ‘special’ encounter like this. Oh boy!
When I told them about the snake, instead of swimming away, they sunk their masks into the water and tried to follow the poor snake. I started to feel like a kindergarten teacher, haha.
Based on the comic book (yes, a comic book!) I read, sea snake is the most dangerous and venomous snake underwater. That’s why I panicked like a crazy grandma.

When I was still worrying where the snake had gone, my tutor partner, Genta swam to me and said this in Japanese: “Dissa don’t worry. Sea snake won’t bite if we don’t disturb it”
I started to feel stupid, “I thought it’s attacking people type of snake??”
Genta looked so serious now. “Nope, although it’s venomous, it’s pretty tame to people. That’s why some Okinawans even have it for meal”
What????
At that moment, I imagined that slimy little creature slid inside my tummy. Eww!
I should be more careful looking at my sushi menu from now on.

Wednesday, April 27, 2011

My Beppu Story: To the Land Unknown

"Jadinya uni mau kemana? Ke Jepang apa Bandung?,"tanya ibuku suatu hari tahun 2006. Topik ini memang sudah jadi perdebatan hangat di rumah. Topik tentang masa depanku, si uni, si kakak paling tua, yang saat itu berumur 16 tahun. Aku harus memilih kemana aku mau melanjutkan studiku selepas masa SMA. Alhamdulillah saah satu uni ternama di Bandung memberikan satu kursinya setelah mengikuti rangkaian tes yang panjang. Di lain sisi, minggu lalu kami baru mendapat telfon dari satu lagi universitas yang aku apply. Mereka bilang aplikasiku diterima dan aku mendapatkan beasiswa uang sekolah selama 4 tahun. Jadi, kalau aku ke uni ini, aku nggak usah bayar uang sekolah, sampai lulus. Wow! Another alhamdulillah!

Namun, universitas yang kedua ini lokasinya di Jepang. Yep, negara asalnya tokoh favoritku, Doraemon. Dan rumor mengatakan biaya hidup di Jepang itu super mahal! Malah yang termahal dibanding US, UK atau Australia. Hmm, walaupun uang sekolah gratis, kalau biaya hidup tetap selangit, kasian mama papa dong, pikirku saat itu. Ditambah lagi, teman-teman SMA yang mulai meracuni untuk pergi ke Bandung bersama-sama mereka. Gini deh kalau sekolah di SMA yang gemar bedol desa ke kota kembang itu. Aku pun berfikir lagi, aku mau kemana ya?

Lagi bimbang-bimbangnya menimbang keputusan, tiba-tiba suatu sore telefon rumah berdering. Ternyata dari kakak kelas Indonesia yang belajar di universitas Jepang tersebut. Wow! Aku ditelfon langsung! Jadilah aku pakai kesempatan ini untuk bertanya panjang lebar. Gimana kuliahnya? Tempatnya asik nggak? Dan yang paling penting biaya hidupnya gimana? Mahal nggak kak? Nah, pas pertanyaan ini ditanyakan, aku inget banget dia jawabnya begini: "Beppu tuh biayanya hidupnya relatif murah, jangan bayangin kota besar kaya Tokyo atau Osaka. Dia tuh desa kecil gitu, jadi biaya hidupnya nggak tinggi. Kamu juga bisa baito, atau kerja part time kok!"

"Kerja ?!" Aku yang dari kecil mendambakan kera part time sebagai barista starbucks pun langsung bermimpi. Asik juga kali kuliah sambil part time, bisa dapat uang jajan sendiri. Lagipula si kakak ini bilang biaya hdup di Beppu nggak semahal Tokyo, soalnya Beppu itu desa kecil. Wait, wait? Apa? Desa kecil? Beppu yah tadi namanya? Kok aku belum pernah denger? Deket mana sih? Kok di atlas nggak ada?
"Iya, Beppu inaka, pedesaan banget! Kalau di peta ada di deket Fukuoka. Jadi nanti dari Jakarta, kamu naik pesawat ke bandara Fukuoka, baru dari situ naik bus, 2 jam ke Beppu", kata si kakak mendeskripsikan kota kecil yang akan jadi rumahku 4 tahun ke depan. Yep, setelah telfon dari sang kakak kelas, aku pun langsung memutuskan untuk kuliah di Jepang dan mengepak koper untuk ke Beppu, kota kecil yang sampai detik itu tidak saya ketahui lokasinya. This is indeed a journey to the land unknown.      

Monday, April 4, 2011

My Beppu Story: Beppu, the unique city

Beppu (別府) adalah sebuah kota di prefektur Oita, Pulau Kyushu, Jepang, yang terkenal dengan hot springs atau pemandian air panasnya. Nama Beppu sendiri terdiri dari 2 huruf kanji 別 (baca: betsu, artinya "berbeda") dan 府 (baca: fu, artinya "kota").
Yes, kota ini literally berarti kota yang berbeda, atau bahasa kerennya kota yang unik. Setelah empat tahun berkesempatan tinggal dan belajar di sana, saya akhirnya mengerti bahwa Beppu benar-benar kota yang unik. These are some teasers why


NUMBER One Beppu mempunyai 9 geothermal hot spots, atau mata air panas yang biasa disebut 地獄 (baca: jigoku, artinya "neraka"). Yep, saking panasnya mata air tersebut, orang-orang disekitar menyebutnya neraka. Ada yang warnanya biru kaya air laut, atau disebut umi jigoku (sea hell). Ada juga yang warna airnya merah seperti darah, namanya chi no ike jigoku, dan they make very good tourism objects! Selain neraka, Beppu juga terkenal dengan pemandian air panas atau 温泉 (baca: onsen) nya.


NUMBER Two Beppu, terkenal dengan populasi kakek nenek nya yang banyak. Well, karena Beppu bukanlah kota besar yang bising dan pemandangannya bagus banget, banyak penduduk Jepang yang menghabiskan masa tua nya disini. Mereka sering bilang kalau Beppu itu "inaka" atau pedesaan, padahal to be honest, pertama kali saya dateng ke Jepang, saya terkagum-kagum dengan pintu otomatis yang ada di semua supermarket di Beppu. Kalau pedesaannya aja kaya gini, gimana kota besarnya??


NUMBER Three Selain being populous with many elderly people, Beppu juga kaya akan International students, karena salah satu universitas terbesarnya adalah Ritsumeikan Asia Pacific University, dimana saya belajar selama 4 tahun untuk mendapatkan Bachelor's degree. Nah, uni saya ini mahasiswanya ada sekitar 5000-an, 50% orang Jepang dan 50% lagi international students dari 82 negara. Dan para international students ini tinggal dan bekerja part time di Beppu. Jadi kebayang kan betapa multiculturalnya jalanan-jalanan di Beppu? :)


Suasana kota yang bersih dan pemandangan yang apik plus populasi manusia yang beragam membuat Beppu pantas dijuluki the unique city. Tapiii, masih banyak lagi cerita tentang si unique city ini. Lewat "My Beppu Story" saya akan merefresh cerita ajaib, lucu dan menegangkan yang saya alami di kota onsen ini.

Stay tuned!

Friday, February 18, 2011

SKIROSHIMA

A ski trip? Recommending Hiroshima!


Bulan Februari 2010 lalu, di tengah waktu job hunting, uni dan teman-teman dari angkatan 14 pergi untuk ski trip ke Hiroshima. Memangnya lagi nggak sibuk? Well, sebenernya waktu itu kita baru aja menyelesaikan fall semester 2009 dan akan menempuh semester kedua sebagai mahasiswa tahun keempat.

Tahun keempat berarti dua hal : Thesis dan Job Hunting. Sebelum kami bener-bener tenggelam diantara keduanya, Kak Fajar came up dengan ide ski trip, murah meriah, di Hiroshima. Hanya 8000 yen, sudah termasuk bus, sewa boardnya (bisa pilih mau ski atau snowboard), sewa sepatu, baju dan goggle (kacamata)nya. Komplit! Tripnya pun cuma 1 hari, nggak pakai nginep. Berangkat malam dari Beppu, sampainya pagi di Hiroshima, lalu pulang sore-sore ke Beppu.

Kami pergi dengan bus dari depan starbucks Beppu pukul setengah 10 malam. Di bus, kami mengobrol, main game, dan foto-foto. Karena busnya gabung dengan orang Jepang, kami ngga bisa terlalu berisik. Kami stop di rest area, pukul 12 untuk makan malam. Dan restoran di rest area itu terkenal dengan miso shiru (sup dari kacang kedelai dengan rumput laut dan tahu) yang berisi kerang. Yum yum! Udah malem-malem begini dingin, ketemu sup anget, dijamin tidurnya makin nyenyak. Benar saja, pukul 1 malam saat lampu di bus sudah dimatikan, with no words, we felt asleep straight away.

Kami sampai pukul 7 pagi. Cuaca agak mendung dan sedikit rintik-rintik hujan. Tapi ke-excited-an kami mengalahkan semuanya. Kalau desa 14 (yes, that is how we called our batch) sudah ngumpul, hujan badai menerjang sekalipun kami tetap tertawa riang, ha ha ha :P

Kak Fajar, our loveliest coordinator menyuruh kita semua turun dan ambil barangnya masing-masing. Barang yang dimaksud adalah board, sepatu, baju dan goggle. Semuanya sudah di plastikin sama tour agentnya dengan nama-nama kami tertulis di plastiknya. Sebelumnya memang Kak Fajar sudah mendata berapa size sepatu dan baju kami biar nggak ada yang kegedean atau kekecilan.

Oh, dan kami pun sebenarnya boleh memilih mau main ski atau snowboarding. Jujur uni ngga tau bedanya sebelumnya, tapi karena banyak yang bilang snowboard lebih gampang, kebanyakan dari kami memilih snowboard. Dan akibatnya kebanyakan dari kami harus menenteng board yang jauh lebih berat dari board ski yang langsing-langsing itu, hehehe.

Setelah full equipped dengan baju, sarung tangan, sepatu dan goggle, kami bersiap menuju ke tkp. Satu hal ya ma, walaupun sebagian gunung ditutupi salju buatan, tapi dinginnya tetep ngga ngalahin salju beneran. Malah uni yang sudah pakai baju 3 lapis plus baju snowboardnya aja masih kedinginan. Tapi ya itu lagi, buat orang yang belum pernah ski/snowboard atau melakukan olahraga ditengah es serut seperti ini, rasa excited mengalahkan semuanya.


How to snowboard? I learned it on the spot. Boardnya snowboard cuma 1 untuk dua kaki, beda dengan ski dimana kaki kanan dan kiri punya boardnya masing-masing. Nah, snowboard ini seperti skateboard. Dua kaki kita harus di “locked” di atasnya untuk bisa meluncur. Tapi, pertama-tama lock dulu kaki kanan kita, agar kita masih bisa berjalan. Kemana? Ke kereta gantung.

Iya, ke kereta gantung yang akan membawa kita naik ke atas gunung. Kereta gantung yang isinya kursi panjang untuk dua orang. Nah setelah kita dibawa oleh si kereta ke atas puncak, baru lah kita “pasang” kaki kiri kita ke atas board. Dan meluncurlah kita ke bawah!

Uni jatuh! Thoooousands of time! hehehehe. Ada yang mukanya “nyungsep” ke salju, ada yang badannya keseret sama board yang berat itu, ada juga yang guling-guling jadi kaya bola salju. Tapi nggak jatuh ngga belajar kan ma? Hehehee. Akhirnya uni mencoba berdiri lagi, walaupun susah banget karena berat badan yang berlebih :P

Tapi kalau sering jatuh, nantinya pasti sering mencoba berdiri, akhirnya jadi kebiasaan. Mau jatuh pun jadi udah tahu, sehingga lebih bisa ngeberatin badan ke kanan dan kiri agar ngga jatuh. Bener-bener kaya skate board! Cuma bedanya, kalau skate board jatuhnya di jalan, kalau snowboard di salju. To be honest, that doesn’t really make any differences.

Kami mulai ski dari jam 8 sampai 2 sore, dan dalam waktu segitu uni telah naik turun gunung 7 kali (applause!). Hahaha. Rekor dipegang oleh Deta yang berhasil naik turun 10 kali. She’s our winter Olympic winner!

By the way, di Utopia Saioto Ski Resort ini juga ada restorannya dengan paket buffet all you can eat hanya dengan 1000 yen (promosi haha). Untuk kami yang kelaparan, we have no other choice. Buffet pula! NYAM NYAMMM

Bus snow express kami meninggalkan tempat ski sekitar pukul setengah empat sore, menuju Beppu. Oh, karena Beppu ada di pulau yang berbeda, kami melewati terowongan bawah laut, lho. Hehehe.

Finally, we arrived home at midnight. The whole trip was amazing! Short but enough to add more stories to my life. Especially when I came home and checked my legs. Happily said, I got purple-ish bruises all over them, and could not really move for 3 straight days. I became a happy grandma. Thanks to the skiroshima trip and crazy batch 14 :P

p.s all pictures credited to Ms. Nariswari Dita Yudianti and Mr. Winardi as the only fellas who brought cameras that day :)
thanks heaps!

Wednesday, February 16, 2011

Last day : Picture gallery :)




Akhirnya, tibalah hari terakhir dari Okinawa trip kita. Pesawat yang akan membawa kita kembali ke Beppu itu akan terbang pukul 7 malam. Jadi kita sudah harus ada di bandara sekitar pukul 5 sore. Nah, sampai jam 5 itu, rencananya kami adalah, sbb:

1. Beach-ing (umm, maksudnya bermain-main di pantai, karena Okinawa terkenal banget dengan pantainya yang indah, dan sampai hari terakhir, kami belum main air :P)

2. American Village Exploring (Yep! Ada daerah wisata di Okinawa yang jadi tempat hang-outnya para americano, mostly para navy atau militer amerika yang campnya di Okinawa. Saking amerikanya, di sana sampai ada baskin robins and resto fast food A & W. Yep, di Jepang, cuma di Okinawa aja yang ada A&W nya. Dan we're craving for some onion rings!)

3. Starbuck pre-paid card Hunting (Dari hari pertama uni udah tertarik untuk beli, karena desainnya yang unik dan colorful, tapi ragu gitu, takut uangnya ngga cukup. Pas hari kedua pengen beli eh kehabisan. Jadilah hari terakhir ini akan kami gunakan untuk menghunting kartu itu sampai ke starbucks di pelosok-pelosok!)

So, instead of ngomong panjang-panjang, uni upload foto-foto hari terakhir di Okinawa yaa :)

Beautiful beach is all i need to smile that wide :D

BANANA BOAAAAAAAAAAAT!

One tip: Sitting in the front is a total bad idea. Especially if the motorboat splashing tons of water to your face.

American Village here we come :) :)

In american village with real americans :P

Uni dan Anri, with the shirts we bought a day earlier

Another beach to play around, and this is where i met another 2 americans from navy. They talked to me and actually stopped me from playing around with my friends :(

Look what I found at the end of the day!! THE PRE-PAID CARD YEAHH!



Monday, February 14, 2011

Day 2 : Okinawa in 1 day? NOT ENOUGH

Kami di jemput jam setengah 7 pagi di depan hotel southern beach. Naik bus wisata menuju Naha, yang artinya menuju ke utara. Karena hotel kami di Itoman, which is bagian paling selatan mainland Okinawa, kamilah yang di jemput paling pagi. Hehehe. Dengan muka masih agak ngantuk, kami pun bergegas masuk ke bus.

Cuaca hari itu agak mendung. Ketika kami ber-12 sudah di dalam bus, hujan pun mengguyur. Tapi ngga mengurangi ke-excited-an kami hari itu, karena sepanjang jalan, tour guidenya menjelaskan tentang Okinawa dari A sampai Z.


Okinawa yang juga dikenal dengan nama Ryukyuu Islands adalah prefektur kepulauan di Jepang yang bahasa dan budayanya agak berbeda dengan prefektur di Jepang yang selama ini diketahui sama banyak orang, seperti Tokyo, Kyoto atau Osaka. Orang-orang di Okinawa disebut Uchina, dan bahasa Okinawa disebut Uchinaguchi. Orang-orang di mainland Jepang disebut Yamato, dan bahasa Jepang yang dipakai secara umum itu disebut Yamatoguchi.

Perbedaan bahasanya lumayan signifikan sih, terutama dari cara membaca kanji. Walaupun begitu, kalau sudah kebiasaan tinggal di Okinawa, kita bisa juga menebak-nebak apa maksud kalimatnya. Tapi tenang aja, para uchina itu mengerti yamatoguchi kok, walaupun para yamato belum tentu mengerti uchinaguchi, hehehe.


Nah kalau dari budaya sendiri, Okinawa, yang berdekatan dengan Taiwan dan China, mempunyai pengaruh kuat dari sana. Dewa-nya yang bernama Shisa itu bentuknya seperti singa barongsai. Warna-warna baju adatnya pun kebanyakan merah atau oranye cerah, yang lebih mengingatkan kita sama daratan China. Olahraga Jepang yang terkenal, karate merupakan perpaduan kungfu dan Okinawa martial arts. Ini berkembang pesat karena pada zaman Meiji dulu di Okinawa ngga boleh ada senjata sama sekali.

First Stop : Ryugujo Butterfly Garden

Uni dan teman-teman sampai di sana pada jam makan siang, karena memang jadwalnya ada makan siang bersama di sana. Paket wisata kami sudah termasuk makan siang, tiket masuk dan juga oleh2 di akhir tur. Tapi sayangnya makan siang hari itu adalah Okinawa Soba, yang seperti uni bilang di post sebelumnya, ada ehem, babinya. Hehehehe. Jadi kami para jilbabers ngga makan dan langsung masuk ke dalam taman kupu-kupunya.

Ternyata kupu-kupunya jinak! Dan suka sama yang benda yang berwarna merah. Ada topi merah di dalam tamannya, dan kupu-kupunya ngegerumbul semua di atas. Biasanya kalau mau foto, orang-orang tinggal pakai topi itu, jadi ada kupu-kupu di atas kepalanya, tapi karena (alhamdulillah) hari itu ngga sengaja pake jilbab merah, uni ngga usah pakai topi, langsung dihinggapi sama serangga cantik itu. Yeayy, soo happy! Berasa putri disney gitu, main-main sama kupu-kupu!

Second Stop: Churaumi Aquarium

I love fish! I love aquarium! Dan uni sudah mendengar temen-temen yang ke Okinawa bragging tentang how amazing this aquarium is. Well, Churaumi adalah aquarium terbesar di Jepang, dengan tank Kuroshio Sea nya yang menampung manta rays (ikan pari), ikan-ikan besar lain plus 4 whale sharks yang super besar. Tank kuroshio ini adalah tank terbesar ke dua di dunia, dengan ukuran 8.2 m x 22.5 m, dan ketebalan kaca 60 cm, menampung 7500 m kubik air. So, this is indeed the coolest aquarium i've ever seen.

Selain Kuroshio sea, Churaumi, yang artinya laut (umi) yang indah (chura) dalam bahasa Okinawa, juga menampilkan show lumba-lumba dan manatee (dugong). Species bawah lautnya pun beragam, dari ikan hias teman-temannya Nemo, sampai makhluk yang hanya bisa kita temui di palung terdalam. Dan mereka punya penguin! Hahaha, kenapa? Karena orang Jepang suka sekali sama penguin, hehe.


Oh, di bagian depan, setelah kita masuk, ada kolam di mana kita bisa memegang bintang laut atau sea-cucumber yang slimy-slimy. Well, jaman dulu di Sea World kayanya juga pernah sih, tapi yang ini lebih keren karena? Karena we're in Okinawa! Hahahaha

I love Churaumi, more than any aquariums i've ever visited. Uni sampai bilang ke diri uni sendiri, kayaknya uni ngga akan bosen deh kalau nanti datang lagi ke sini untuk ke dua kalinya. Well, a month after that, God granted my prayer, and I came there again. More on that, later :)

Third Stop: Nago Pineapple Park

What's the fun? Icip-icip tester makanan dan minuman dari nanas! Ada coklat, bolu, jus nanas, wine nanas (yang wanginya sangat menyengattt) dan sebagainya. Bahkan ada sabun muka dan sabun mandi dari nanas! Huwahh, bener-bener nanas day :P


Teruss, yang udah ditunggu-tunggu: Makan nanas sepuasnya! FREE OF CHARGE!!


Dan pas pulang, di bus dibagiin es krim nanas asli Okinawa. Hahaha, kenyang kenyang kenyang!


Fourth Stop: Ryukyuu Village Glass House


Ini adalah pabrik pembuatan hiasan dari kaca. Sebagai bagian dari tur, kami dapat diskon 10 persen dan souvenir tatakan gelas asli made in Ryukyuu Village :P

Last Stop : Kokusai Dori (again)


Sebenernya ini ngga termasuk bagian tur sih, tapi kita ngerasa hari masih sore untuk buru-buru kembali ke hotel. Jadinya, kami minta diturunkan di tengah jalan sama pak Supirnya hehe. Walhasil kami diturunkan di Kokusai Dori, dan kali ini kami puas muter-muter dari awal jalan ke ujung terus balik lagi ke awal. Pokoknya kami sampai hafal toko baju di mana, toko oleh-oleh dimana dan yang paling penting, starbucks ada di mana! Yeayy, kenapa? Karena kami mau beli tumbler (tempat minum) yang edisi khusus Okinawa!

Yep, uni memang mengoleksi tumbler starbucks dari seluruh prefektur, karena designnya bagus-bagus! Dan menurut uni, Okinawa ini yang paling bagus, hehehe.

Finally, dinner.


Yes. A funny dinner, in a funny restaurant, with funny food. Why? Hmm, begini ceritanya. Setelah muter-muter dan semakin merasa lapar, kami memutuskan untuk makan di restaurant yang dekorasinya Okinawa banget! Restaurant 居酒屋 (izakaya) yang biasanya dipakai nomikai, atau minum-minum. Artinya, makanannya biasanya 1 di share rame-rame dan harganya mahal. Terus biasanya ada appetizer di awal yang mau kita pesen atau ngga, kita harus tetep bayar. Harga appetizer itu sekitar 500 - 600 yen.
Nah, uni kebetulan habis beli kaos sama Anri, jadi temen-temen uni udah masuk duluan. Pas kita masuk, di atas mejanya udah tersedia appetizer itu, yang fotonya seperti di bawah ini.


Di satu meja uni ada Mela, dan Dhea yang sama-sama baru dateng juga. Kami kelaparan dan langsung menyantap appetizernya. Kenyal-kenyal gitu kaya rumput laut. Akhirnya empat piring kecil pun habis disantap kami berempat.
Eh, setelah kami selesai makan, tiba-tiba Tina dateng ke meja kami. Melihat piring appetizer kami kosong, Tina pun mengerutkan kening. "Kalian habis!?"
"Iya, enak yah!", kami kompak menjawab
Mendengar jawaban kami, air muka Tina berubah, "Itukan kuping..."
Gantian Mela yang mengerutkan kening, "kuping apa kak?"
Sambil ngeliat muka kita satu-satu, Tina pelan-pelan menjawab, "kuping....babi"
"Hoeeeeeeeekkkk!", Mela langsung kabur ke kamar mandi, sambil mencoba memuntahkan sepiring kuping itu.
Uni sama Anri liat-liatan. Dhea diem.
"maaf ya... kirain kalian tau...", kata Tina sebelum meninggalkan kami in an awe....

yep, awe-ful stomaches.

:P


First day : Eat, Shop and Take pictures



The Arrival

Pesawat kami dari Fukuoka mendarat sekitar jam makan siang di airport Naha, ibukota prefektur Okinawa. Yang pertama menyedot perhatian uni adalah banyaknya pot bunga anggrek di sepanjang gate dan ruang tunggu bandara. Anggrek ungu gitu, ma, I know you’ll love them! Jadilah kita-kita yang sudah lama ngga ngeliat anggrek bergerak mengambil kamera. Pot-pot bunga itu membuat bandara Naha cantik banget dan berbeda dari semua bandara di Jepang yang pernah uni datangin. This feels more homey.

Where to go? We didn’t know. Hahaa. Karena rencananya besok kita akan ikut tur 1 hari dengan bus, kita lupa memplanning hari pertama kita, hehee. Akhirnya kita datang ke bagian informasi di bandara, dan mereka bisa ngomong bahasa inggris DENGAN SANGAT AMAT LANCAR! Yeaayyy! Apakah karena di Okinawa banyak tentara Amerika atau karena banyak turis asing yang datang dan nggak tau where to go kaya kita, ehem, tapi yang jelas, ibu-ibu (iya, ibu-ibu, keren kan?!) di bagian informasi berbicara dengan bahasa inggris yang fluent dan jelas, wow!

Mereka menjelaskan tempat-tempat wisata di Okinawa, inland dan outland, tempat-tempat diving, surfing dan pantai-pantai yang super keren. Well, kita cuma punya kurang dari 3 hari dan besok kita akan tour di dalam Naha, jadi kita nggak akan bisa ke pulau lain. (But I finally went to those beautiful islands during AYEPO, more on this later ya ma). Jadi ketika si ibu informasi bertanya “What do you wanna do now?”. Grrwwlllll, our stomachs answered. EAT!! Eat okinawan food!!

Kami pun menggeret koper kami ke stasiun kereta di bandara. Iya ma, Naha airport, seperti Narita airport, punya stasiun yang jadi tempat pemberhentian kereta dari dalam kota. Sepanjang perjalanan, kami melihat tempat terkenal lainnya di Okinawa seperti Shuri Jo (Shuri Castle). Sambil lihat-lihat keluar, di dalam kereta pastinya kami tetap foto-foto, hehehe. Orang juga males masuk kali ya, karena 1 gerbong isinya kami ber 12 doang! :P

Porky Okinawa :P

Akhirnya, kereta yang kami tumpangi berhenti di stasiun dekat pintu masuk kokusai dori. Seperti kuda yang dilepas dari kandangnya pas pacuan kuda, kami pun berlari berhamburan (well, agak hiperbol sih, tapi sejenis lah ma :P). Melewati banner lampu “国際通り入口” yang karena waktu itu masih siang jadi belum menyala. Apa isinya kokusai dori? TOKO-TOKO. Banyaaaaaaaakk banget! Dari toko makanan khas Okinawa seperti Chinsuko dan Imo (ubi) tart, toko kaos-kaos sablonan, sampai tukang tato ada di situ. Huwaahh, hari pertama udah disuguhi menu favorit, SHOPPING!

Ehm, tapi perut berkata lain. Sebelum shopping, ada baiknya kami “menyogoknya” dengan makanan atau dia akan mulai bernyanyi lagi. So, we found a small restaurant around the corner. An Okinawan restaurant, sells Okinawa Soba (seperti udon tapi with 1 slice of, sorry to say, seemed-yummy pork), Taco rice (Mexican-influenced cuisine, sayuran dan daging cincang dengan saus salsa), Soumen (mi tipis seperti bihun dicampur dengan kecap), Goya champur (ini dia favorit uni! pare, tofu, telur di CAMPUR jadi satu) dan maasih banyak lagi.

Goya Champur

Well, masakan Okinawa itu rendah lemak dan banyak sayur. Nggak heran kalau orang-orangnya adalah yang umurnya paling panjang di seluruh Jepang.

Chinsuko Alert!

Setelah puas makan, uni dan temen-temen pun melaksanakan “kodrat wanita” sebagai shopper sejati. Hehehe. Kami loncat dari satu toko ke toko yang lain, mencicipi kue-kue khas Okinawa seperti Beni Imo (ubi ungu khas Okinawa) Pie dan Chinsuko.

Nah yang terakhir ini nih yang seru. Ada buaanyaak banget rasa, model dan jenis Chinsuko, biscuit yang dibuat dari tepung, yang menjadi oleh-oleh wajib Okinawa. Di tiap toko, kami bisa mencoba tiap-tiap rasa karena memang disediakan tester. Ada yang dilapisi dark chocolate, white chocolate sampai campuran chocolate sama mangga. Hmm, Yummmm!! Akhirnya kami pun membeli sebagian untuk oleh-oleh dan sebagian lagi untuk cemilan, termasuk uni. Uni beli 1 bungkus yang dilapisi coklat untuk cemilan salama trip di Okinawa.

Fast forward ke hari terakhir, saat kita ngeberesin barang-barang untuk pulang, uni packing semua oleh-oleh sambil mengingat-ingat ini untuk siapa saja. Iseng-iseng uni liatin lagi bungkus Chinsukonya, terus uni liat belakangnya, bagian komposisi. You know what I found? . Buta. Babi.

JLEB. Bagai ditusuk. Karena 5 menit yang lalu baru menghabiskan 1 bungkus Chinsuko yang berlapis coklat. Huwaahh! Ternyata chinsuko itu bahan dasarnya memang lard, atau lemak babi. Woalah, rek..rek.. Ngga research dulu sih sebelumnya. Padahal di kokusai street udah loncat toko ke toko untuk nyobain testernya. Haduhhh!

Pictures? Free of Charge

Waktu sudah makin sore, dan kami harus meninggalkan kokusai dori. But we will be back tomorrow! Next destination is….Shuri Castle! Yep, we took a train, go there but not really going inside it. Why? Because we found better backgrounds to take pictures OUTSIDE. Hehe. So yea, we took heaps of picture, mom. Dan dari situ kami pun bergegas pulang.

So now we gotta go to the hotel dengan menyewa 1 buah “taksi” model medium yang bisa dimuai 12 orang plus koper-koper. Yah, seperti mobil espass gede sedikit gitu, ma. Dengan bapak supir yang keren banget!

Dia tahu tentang Indonesia, terus punya taste yang bagus dalam music (karena lagu yang di play di mobilnya, which are Okinawan songs, bagus bagus banget!), dan yang paling oke adalah, dia yang punya perusahaan taksi tersebut. Weeeww! Kita kenalan sama sacho (direktur) nya! Kita pun diajari bahasa-bahasa lokal Okinawa yang SANGAT BEDA sama bahasa jepang. Kalau di Jepang terimakasih itu arigatou, di Okinawa bilangnya nihedebyu. Nah lo!

The Hotel

Hotel kami namanya Southern Beach Hotel, terletak di Itoman, which is the southern part of Okinawa honbu (mainland). Hotelnya bagus! 12 orang dimasukkan ke dalam 3 kamar yang “decent”, karena buka pintunya aja pakai kartu, ngga seperti hotel-hotel backpacker yang pakai kunci beneran. Hahaha, beginilah nasib backpacker yang ngga biasa nginep di hotel bagus :P

Huwahhhh, hari pertama? Almost done! Besok kita akan dijemput pagi-pagi untuk tur dalam kota Okinawa.

Naik bus ke tempat-tempat seru, termasuk one of my bucket list places: Okinawa Churaumi Aquarium, the largest aquarium in Japan.

Wowooww! Can’t wait! So how about the rest of the night, un? Hahaha mom, we did uno and some girl talks which involved loud laughs hahaha, good times good times :)



Monday, February 7, 2011

Giant burgers, perfect dish for DUNCH


Kalau lagi jalan-jalan, uni dan temen-temen paling excited plus bingung mikirin makan. Karena budget kita sangat terbatas dan mostly terpakai buat transport atau hotel, nggak jarang kita jadi keluar masuk konbini (convenient store di Jepang, sejenis indomaret gitu) untuk beli onigiri atau roti.

Sarapan pagi biasanya cari onigiri atau roti yang 100 yen-an plus ocha botol gede yang di share rame-rame. Nah, kalau sarapan seadanya begini, biasanya jam 10an perut sudah mulai kruyuk-kruyuk lagi. Most of the time, uni dan temen-temen bersabar sampai jam lunch untuk bisa menyantap meal yang besar dan nikmat. Tapi nggak jarang waktu lunch kita mundur dari jam 12, karena biasanya kita masih sibuk sightseeing dan lupa ke"kruyukan" perut. Hehehe.

Seperti di Kyoto, kota favorit mama, uni dan teman-teman baru menyantap lunch jam setengah empat sore karena kelamaan bermain di Kiyomizudera, sebuah kuil di atas gunung yang terkenal dengan mata air yang berkhasiat.

Smile burger, makes you smile....and full

Sebelum naik ke atas, kami sudah melihat poster ini di pinggir jalan. Nama tokonya Smile Burger, menjual burger dengan patty atau adonan daging burger yang 100% sapi. Ukurannya jumbo pula! Jadilah uni yang waktu itu pergi dengan Saras, Ryan dan teman-temannya tertarik untuk menjadikan si burger ini menu makan siang. Apalagi buat uni dan Saras yang ngga makan daging babi, menemukan burger di Jepang dengan daging sapi 100% tanpa campuran daging-daging lain itu seperti ketemu oase di padang pasir, hehehe. Langka banget! Dan wajib dicoba pastinya.

Jadi setelah kami "turun gunung" dari Kiyomizudera, which is waktu itu jam setengah 4 sore, kaki kami mengikuti komando perut untuk masuk ke kedai Smile Burger. Kedainya apik banget! Ada dapur kecil, sofa, kamar mandi dan rak majalah, semuanya fit into one small cute room. Musik yang dipasang juga oke punya. Pokoknya kita yang kecapean jalan-jalan udah siap-siap rebahan di sofanya.

Ternyata Smile Burger ini 1 harinya hanya bikin 50 porsi, dan kalau sudah habis mereka akan tutup, ngga peduli jam berapa habisnya. Jadinya kita lucky banget bisa makan sore di situ.
Dan 1 paket normal burger (yang sebenernya sizenya ngga normal) itu termasuk 1 gelas minum, potato chips dan pickles, semuanya 1050 yen. Mahal? Nggak juga, karena burgernya SUPPPPPERR BESARRR! Saras aja ngga abis makannya, ma :P Uni pun ngga makan malem lagi hari itu, hehehe. Definitely a good place to have your dinner-lunch, mom!

SUPER SASEBO

But if you're talking about giant burger in Japan, then you should not miss Sasebo burger, mom. Sasebo adalah sebuah kota di prefektur Nagasaki yang juga menjadi entrance gate para pedagang eropa dulu. Banyak ekspat yang berdiam di sini sehingga makanan khas Sasebo pun terinfluence dari luar negri, yaitu Sasebo burger.


Burgernya besar dan pipih, cara makannya pun agak unik. Roti burger atau bunnya di penyet sampai mayonaise dan mustardnya melimpah ruah keluar. Berantakan? Iya. Enak? Banget! OHH, patty-nya pun dibuat dari 100% daging sapi ASELI, yihiiyy!

Di Sasebo buaaaaaannyak banget toko burger dengan range harga yang berbeda-beda. Nah, yang uni datangi waktu itu adalah kedai burger "Log Kit" di Sasebo station. Karena dia ada di station, jadi sistemnya take away gitu dan ngga ada tempat duduknya. Tapi, tenang, we're bunch of creative kids. So we bought the burgers and ate them inside the station. Ohh! Seperti smile burger, 1 paket Sasebo burger versi Log Kit includes kentang dan 1 big glass of soft drink. KENYANGGGG!

So yes, mom. Next time you're coming to Japan, just tell me is it Kyoto or Sasebo then we'll have the burgers for DUNCH!